Kisah Sahabat Lama
Perkenalkan, namaku Dewa. Aku
bersekolah di SDN Suka Jaya, Surabaya. Saat ini aku duduk di kelas 5A. kelas 5A
termasuk kelas unggulan di sekolahku. Aku bangga bisa masuk di kelas unggulan.
Tetapi, semenjak aku berubah banyak teman-temanku yang tidak suka denganku.
Dulu aku seorang anak yang culun serta kurang pandai dalam bidang apapun,
tetapi sekarang aku berubah.
Aku bisa berubah, berkat dorongan
orangtuaku juga. Tetapi, aku heran mengapa teman-temanku tidak suka ketika aku
berubah menjadi orang yang sedikit lebih baik. Padahal aku lebih suka diriku
yang sekarang ini. Karena bisa membuat orang tersenyum dan tidak banyak
merepotkan orang lain, terutama orang tua. Jadi sekarang aku lebih pendiam
daripada yang dulu.
Kira-kira satu bulan yang lalu aku
mulai berubah. Semenjak naik kelas ke kelas 5 tepatnya. Di kelas 5A, aku
menjadi anak yang paling pendiam. Waktu itu, hari rabu aku pergi bersama teman
baruku dari kelas 5A. aku pergi menuju taman hijau di dekat rumah teman lamaku.
Saat itu, teman lamaku yang bernama Egar sedang bermain sepeda di halaman
rumahnya. Lalu, aku menyapanya, “ Hy, Egar ! “. Tetapi Egar hanya menoleh tanpa
membalas sapaanku.
Aku sedikit sebal dengan sikap Egar
yang seperti itu. Tetapi, aku harus bisa lebih sabar menghadapi teman yang
seperti itu. Sepulang dari taman Hijau, aku langsung menyuruh bibi memasakkan
air panas untuk aku mandi. Selesai mandi, aku bergegas menuju ke ruang kerja
ayahku untuk meminta uang jajan selama minggu depan ini. Setelah aku mengambil
uang jajan, aku melihat sebuah foto di meja kerja ayahku. Ternyata foto itu,
foto ayahku sewaktu masih kecil. Wajahnya, mirip denganku saat ini.
Aku kagum dengan ayahku, dia telah
berhasil membuat sebuah perusahaan yang cukup sukses dan bagus dengan hasil
kerja kerasnya sendiri. Aku tau, jika ayahku dulu adalah seorang anak yang
telah ditinggal ayahnya pergi. Ayahku bisa menghadapi kerasnya hidup dengan
senyuman yang mungkin sulit dilakukan oleh orang lain. Aku bersyukur bisa hidup
di dunia ini dengan segala berkecukupan.
Hal ini yang bisa membuat aku
berubah. Besok aku harus lebih bisa bersikap ramah pada teman-temanku, supaya
aku bisa seperti dulu lagi. Mempunyai banyak teman yang saling membantu satu
sama lain. Rasanya, aku ingin kembali ke masa saat aku belum berubah menjadi
seperti sekarang ini.
Pagi hari ini, aku bangun lebih awal
sebagai awal perubahan diriku juga. Aku segera mandi dan bersiap untuk
berangkat sekolah. Tetapi, ketika aku akan masuk mobil ada Egar yang sedang
mengintip rumahku dari semak-semak. Aku heran, mengapa Egar bersikap sangat
aneh padaku. Padahal, aku tidak pernah membuat kesalahan pada Egar. Setelah aku
melihat Egar, aku langsung berangkat naik mobil yang diantar dengan pak supir
yang sangat baik, namanya Pak Koni.
Sesampainya di sekolah aku melihat
ada segerombolan anak kelas 1 dan 2 berkumpul di depan UKS melihat sesuatu. Aku
makin penasaran, apa yang dilihat segerombolan anak-anak itu. Makin lama,
gerombolan itu makin banyak bahkan hampir seluruh warga sekolah bergerumun di
depan UKS, kecuali guru. Aku memutuskan untuk meletakkan tas terlebih dahulu di
dalam kelas. Lalu, aku pun menghampiri kerumunan itu.
Ternyata ada seorang anak yang
terpeleset dari depan kelasnya yang basah. Kepala anak itu berdarah sangat
banyak, darahnya terus mengalir dengan derasnya. Aku tak tau siapa anak yang
terpeleset itu. Setelah aku liat wajahnya ternyata dia adalah Egar teman
lamaku, yang tadi pagi mengintip aku berangkat sekolah. Aku kaget bukan
kepalang, mengapa bisa Egar terpeleset? Apa mungkin Egar lari ketakutan karena
aku telah melihat dia di balik semak-semak? Itu semua adalah teka-teki yang
harus dipecahkan.
Bu Gestin datang ke kerumunan itu,
lalu bu Gestin memanggil tenaga kerja UKS untuk melihat keadaan Egar yang
terbujur agak kaku di lantai depan UKS. Setelah tenaga kerja UKS melihat
keadaan Egar, Petugas UKS itu pun memutuskan untuk memanggil Ambulan dan
membawa Egar ke Rumah Sakit Kasih Ibu agar ditangani lebih baik oleh dokter
yang berada disana. Bel tanda masuk kelas pun berbunyi.
Sewaktu aku masuk kelas, aku
melewati kelas 5B yaitu kelas Egar. Aku melihat bangku Egar yang kosong, dan
hanya ada sebuah tas yang sedikit lusuh disana. Lalu, aku masuk kelas dan
mengikuti pelajaran berlangsung. Setelah pelajaran selesai waktunya istirahat,
sewaktu istirahat dan pelajaran aku selalu melamun memikirkan bagaimana keadaan
Egar saat ini. Lalu, aku berpikiran untuk menjenguk Egar sepulang sekolah.
Sepulang sekolah aku melihat kelas
Egar yang tampak sepi tanpa ada orang disana. Hanya ada sebuah tas di kursi
kosong, aku tau itu tas Egar. Lalu, aku mengambil tas itu dan bergegas untuk
berangkat ke Rumah Sakit tempat Egar dirawat. Sekarang aku berada di depan
gerbang sekolah untuk menunggu pak Koni menjemputku. Aku menunggu pak Koni agak
lama, tak seperti biasanya. Aku merasa keberatan membawa 2 tas.
Setelah menunggu sekitar 30 menit,
akhirnya pak Koni datang. Aku bertanya pada pak Koni “mengapa menjemputku tidak secepat biasanya,
pak?” tanyaku pada pak Koni. “ tadi pak Koni masih disuruh mengantar ayah den
Dewa ke Bandara.”jawab pak Koni dengan nada ketakutan. Aku heran, sedang apa
ayah ke bandara? Lalu aku bertanya pada pak Koni “ ayah akan kemana, pak? Kok
ke bandara? Apa ayah akan ada tugas luar kota lagi? “ tanyaku secara cepat pada
pak Koni. Pak Koni hanya menjawab “ iya, den. Pak Regi lagi ada tugas luar
negeri ke Australia!.”
Setelah mendengar berita itu, aku
hanya menghela nafas karena sangat sedih tidak akan ketemu ayah selama lebih
dari 2 hari pastinya. Aku ingin mendapat perhatian penuh dari kedua orang
tuaku. Untung saja, mamaku sudah berhenti bekerja. Kalau saja mamaku masih
bekerja, aku tak bisa bayangkan bagaimana nasibku saat ini. Mungkin aku tak
bisa berubah menjadi seperti saat ini. Saking asyiknya mengobrol dengan pak
Koni, aku sampai lupa mau bilang bahwa aku akan menjenguk Egar di Rumah Sakit.
Sesampainya di RS aku mencari suster
untuk menanyakan dimana tempat Egar dirawat. Ternyata Egar dirawat di kamar No.
13. Setelah itu, aku langsung mengunjungi tempat Egar dirawat. Ketika aku buka
pintu kamar Egar, ada seseorang yang telah diselimuti kain putih bersih. Aku
sangat kaget melihat ada orang yang diselimuti kain putih. Aku pun langsung
berlari keluar dan memanggil suster yang sedang lewat. Lalu, aku bertanya
siapakah yang diselimuti kain putih di kamar No. 13?.
Lalu, suster itu menjawab “ yang
diselimuti kain putih itu adalah seorang anak kecil yang kepalanya bocor karena
terpeleset “. Ketika aku mendengar jawaban itu, aku sangat terkejut bukan kepalang.
Lalu, aku kembali bertanya pada suster “ mengapa anak itu diselimuti kain
putih? “. “ iya, karena anak itu sudah tidak bisa tertolong lagi nyawanya. “
jawab suster itu dengan suara ringan.
Aku rasanya ingin pingsan seketika
di tempat ini, ketika mendengar penjelasan suster. Setelah aku mendengar
penjelasan suster, aku langsung bergegas pergi keluar untuk mengunjungi orang
tua Egar dan memberi tau kalau Egar telah meninggal. Sebelum berangkat, aku
berfikir sejenak. Apa mungkin yang diselimuti kain putih itu Egar?. Lalu, aku
segera pergi ke suster untuk menanyakan apa yang diselimuti kain itu bernama
Egar.
Ternyata benar, yang diselimuti kain
putih itu Egar. Dan aku sudah melihat langsung siapa yang diselimuti kain putih
tersebut. Saat kulihat wajah serta tubuh Egar, kuperhatikan matanya yang
keriput, bibirnya yang putih pucat, kulitnya yang sudah sangat pucat serta
kepala bagian ubun-ubunnya yang hancur seperti jeli yang hancur. Seketika aku
menangis dan ingin membangunkan Egar untuk hidup lagi.
Saat itu juga aku berlari sangat
kencang dengan sekuat tenaga. Aku tak tau harus kemana, yang penting aku tidak
melihat betapa mirisnya tubuh Egar. Hanya satu kata yang bisa aku katakan “
Selamat Jalan Egar Sahabatku “
